KCM Bab 1: Maafkanlah Aku Sahabatku Part 2
Akhirnya tibalah Mutiara dan Andreas di sebuah ruangan gedung yang begitu besar, di mana di dalamnya terdapat banyak hiasan bunga di setiap sudut ruangan. Dinding-dindingnya pun bersembunyi di balik kain percak berwarna putih bersih meliuk-liuk bergelombang dengan indahnya.
Perlahan namun pasti mereka berdua melangkah beriringan, begitu serasi dan ideal, membuat iri setiap mata yang memandangnya. Di dalam ruangan itu terdengar ramai percakapan yang diselingi canda dan gurauan, begitu banyak senyum, tawa dan kebahagiaan di tempat ini, lantunan lagu cinta yang terdengar menambah keceriaan di dalam ruangan itu.
“Cullen……….McCullen,” dari balik kerumunan sapaan tersebut terdengar.
Dengan perasaan yang sedikit terkejut, Andreas dan Mutiara menghentikan langkah kaki mereka, karena hanya sedikit orang yang tahu perihal nama belakang Andreas yang sudah lama ia hilangkan. Dari arah suara itu berasal, terlihat dua orang yang datang menghampiri.
Seorang pria dengan perawakan yang tinggi besar, bisa dibilang agak sedikit tambun dan seorang wanita muda yang cantik mendampinginya.
“Andreas McCullen,” kembali berucap pria tinggi besar tersebut, yang lalu menjabat tangan dan langsung memeluk Andreas dengan eratnya.
“Wow gendut, si gendut Todung Sahala Simanjuntak,” balas Andreas.
“Bisa aja nih bule, apa kabarnya Dre?” Tanya Sahala kepada sahabat lamanya tersebut, setelah menggerakan kepalan tangannya yang besar ke arahperut Andreas, seolah-olah sedang memukul perut sahabatnya tersebut layaknya seorang petinju.
“Kabar baik, kau sendiri bagaimana?” Andreas menimpali pertanyaan tersebut.
“Aku baik, sudah berapa tahun ya kira-kira?”.
“Kira-kira ada dua tahunan”.
Percakapan yang diiringin senda gurau mereka pun terhenti, tatkala Sahala memalingkan wajahnya kearah Mutiara yang nampaknya tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan kedua sahabat tersebut.
“Apa kabarmu Tiara?” Tanya Sahala terhadap wanita yang tampak begitu dingin tersebut, seraya tangan kanannya maju mengisyaratkan untuk berjabat tangan.
“Seperti biasa, terima kasih sudah mau bertanya,” jawab Mutiara dengan nada yang dingin, dan lalu membalas jabatan tangan tersebut.
“Maaf Tiara, karena tidak dapat menghadiri pemakaman i…”.
“Tidak perlu meminta maaf, saya sendiri pun tidak menghadirinya,” sela Mutiara memotong pembicaraan pria bertubuh tambun tersebut.
Sontak jawaban tersebut membuat Sahala sedikit terpaku, dan merasa tidak percaya dengan apa yang sedang ia dengar.
“Benarkah?” Masih dengan perasaan yang tidak percaya Sahala bertanya.
Masih segar dalam ingatan Sahala, sosok Mutiara yang merupakan sahabat kecilnya yang begitu periang dan ceria. Namun yang kini ada di hadapannya saat ini adalah seorang wanita yang begitu dingin dan nampak tidak begitu bersahabat.
“Selama kau mengenalku, apa pernah kau melihatku berbohong?” balas Mutiara dengan tatapan matanya yang sedingin salju, “dan sebaiknya, kita tidak perlu melanjutkan percakapan mengenai hal ini”.
“Ok baiklah maaf,” ucap Sahala, “oh iya, masih ingat dengan Nindya si bongsor?”
Dengan wajah yang sumringah, Sahala merangkul wanita yang berada di sisinya dengan penuh rasa bangga.
“Hi Tiara, hi Andreas,” sapa wanita bertubuh mungil yang tengah dirangkul pria bertubuh besar itu, tubuhnya yang ramping dan sedikit athletis menyembul dari balik gaun hitamnya yang sedikit ketat.
“Hah….. beneran ini Nindya pacar mu, si bongsor itu?” Andreas berkata dengan nada yang tak percaya atas apa yang baru saja dia dengar dan lihat, “kau pasti berbohong La”.
“Tunangan, bukan pacar, tapi tunangan,” tukas Sahala sedikit sombong, yang lalu memamerkan cincin yang melekat di jari manisnya dan tunangannya tersebut.
Mutiara hanya bisa terkejut dengan apa yang ia dengar, Nindya yang ia kenal, adalah seorang gadis cantik namun bertubuh besar, dan sangat pemalu. Bagaimana bisa berubah total dan menjadi seorang wanita cantik dan mempunyai tubuh yang profosional seperti saat ini.
“Yang benar? Selamat ya kalian berdua,” tampak begitu sumringah sekali sekali Andreas berucap menanggapi pernyataan sahabatnya tersebut, dan lagi Andreas memeluk Sahala dengan penuh suka cita.
“Maaf ya Andreas, Tiara, tidak menyempatkan untuk mengundang kalian berdua di acara pertunangan kami, soalnya acara kecil-kecilan saja karena mendadak,” terang Nindya yang tampak merasa bersalah.
“Santai saja Nin, kami maklum kok, tidak perlu merasa bersalah begitu lah, lagi pula ini kan hari bahagia, jadi tersenyumlah, hehe,” hibur Andreas.
“Selamat ya Nin,” dengan senyum yang sedikit dipaksakan Mutiara berkata, yang lalu menjabat tangan Nindya.
“Terima kasih Tiara,” balas Nindya.
“Dan selamat juga ya, atas hasil yang sempurna dari program dietnya, meski terbilang jerih payah yang agak sedikit sia-sia,” seru Mutiara dengan nada bicara yang sedikit ketus, seraya seringai senyumnya yang mengejek terarah ke hadapan Sahala.
“Maksudmu sia-sia?” Kembali bertanya Nindya dengan wajah yang kebingungan atas ucapan yang dilontarkan oleh Mutiara.
“Sudahlah anggap saja aku tidak pernah mengucapkannya,” Mutiara berkata enggan untuk menjelaskannya.
“Kumohon Tiara jelaskanlah”.
“Apa kau yakin ingin mendengarnya?”.
“Ya Tiara tolong jelaskan”.
Suasana dipercakapan itu mendadak begitu mencekam setelah kedua wanita itu bercakap-cakap, sementara Andreas nampak begitu cemas dengan apa yang akan sedang terjadi di antara mereka. Mutiara yang kini ia kenal, sangatlah berbeda dengan Mutiara yang dulu begitu ia puja, ia takut jika ia menjelaskan apa yang ingin Nindya dengar, mungkin akan sangat menyakiti hati yang mendengarnya, bahkan untuk orang yang terbilang sangat sabar pun.
“Baiklah begini,” ucap Mutiara yang lalu menghela nafasnya, “semua yang mengenalmu dan Sahala tahu, bahwa kalian berpacaran semenjak lulus SMA, maksudku sejak Sahala lulus SMA dan kau baru saja naik kelas tiga, benar?”.
“Benar, lantas?” Semakin penasaran Nindya dengan penjelasan lawan bicaranya tersebut.
“Hingga saat ini, sudah berapa tahun kira-kira kalian berpacaran?”.
“Sudah tujuh tahun lebih kira-kira”.
“Tujuh tahun, dan selama itu pula kalian mungkin selalu berkata saling mencintai tanpa pernah menghiraukan cemoohan orang-orang perihal fisik kalian,” Mutiara menjelaskan dengan tatapan matanya yang dingin, “dan maaf, bahkan ada yang menjuluki kalian sebagai pasangan gerombolan si berat”.
“Jadi maksudmu ini semua persoalan fisik kami?” Seru Nindya yang sedikit geram dengan pernyataan Mutiara, “perlu kau ketahui Tiara, selama kami saling mencintai, kami tidak akan terlalu ambil pusing dengan apa yang dikatakan orang-orang,” senyuman kecil mengiringi perkataan yang keluar dari bibir Nindya, tangan kanannya erat mencengkram jemari tunangannya yang sejak tadi hanya mampu terdiam mendengar perdebatan di antara mereka berdua.
“Tapi sayangnya ini bukan perihal fisik kalian,” terang Mutiara.
Andreas semakin gusar dengan apa yang ia dengar dalam perdebatan itu, tangan kanannya bergerak kearah pundak Mutiara dan menepuk-nepuknya lembut, seolah mengisyaratkan untuk Mutiara menghentikan perdebatan tersebut.
“Jika bukan, lalu tentang apa?” Saut Nindya yang tak percaya perkataan Mutiara seraya kepalanya sedikit menggeleng-geleng.
“Kalian yang selalu mengagung-agungkan dengan apa yang disebut cinta seharusnya lebih mengerti, kau lihat pria gendut yang ada di sampingmu itu,” jari telunjuk Mutiara kini mengarah ke Sahala, “semua yang ia lakukan membuktikan, bahwa cinta itu hanya pajangan, hanya angin lalu yang berhembus tak berarti.”
Entah apa yang kini tengah merasuki pikiran Mutiara, sehingga mampu berkata begitu pedas seperti itu, dan sontak mereka pun terkejut dengan apa yang Mutiara katakana, tak terkecuali dengan yang mencuri dengar perdebatan mereka.
“Aku….. kami benar-benar tidak mengerti apa maksud dari perkataan mu itu Tiara?”.
Emosi kini tengah menguasai Nindya yang telah teramat sabar mendengar celaan lawan bicaranya tersebut, jika saja Sahala tidak memeluk erat dan menyabarkannya, entah apa yang mungkin terjadi di antara kedua wanita cantik tersebut.
“Aku sangat salut dengan mu Nin, pengorbanan dan penderitaanmu sungguh sangatlah besar, hanya demi cinta kau sanggup menjalaninya kan?”.
Nindya hanya terdiam dan terus mendengarkan apa yang tengah Mutiara katakan.
“Bukan hanya penampilan dan tampak ramping yang kau tuju, tapi juga kesehatan juga menjadi prioritas bukan?”.
Kembali Nindya hanya terdiam sementara jemari tangannya meremas jari tunangannya yang sedang memeluknya.
“Tapi lihatlah ke arah orang gendut ini!” Seru Mutiara dengan menunjuk kearah Sahala, “jangankan berat badan, menghentikan kebiasaannya merokok pun ia tidak sanggup”.
Sahala begitu terkejut dan sekaligus tersadar, topik yang selama ini diperdebatkan kedua wanita itu tidak lain adalah kesehatan dirinya, ia pun semakin erat memeluk Nindya yang nampaknya terlihat begitu emosi.
“Semua ucapanmu mungkin ada benarnya Tiara, tapi perlu kau ketahui, saat kau benar-benar mencintai seseorang, kau akan mencintai keburukan dan kebaikannya, walaupun terkadang itu sangatlah menyakitkan, kau akan memberikan yang terbaik untuknya, meski terkadang tidak mendapatkan timbale baliknya,” terang Nindya berupaya melindungi pria yang sangat di kasihinya itu.
Mendengar pernyataan tersebut dari Nindya lawan debatnya, Mutiara terdiam dalam kegundahan, perdebatan pun terjadi di dalam hatinya, berkaca dari segala peristiwa dalam hidupnya, peristiwa-peristiwa yang telah membuatnya membuang jauh-jauh apa yang namanya ‘Cinta’. Bagi Mutiara, cinta itu hanya sebuah hiasan sahaja, kenakan jika menurutmu cocok, dan sewaktu-waktu bisa kau gantikan jika kau merasa bosan.
“Kau bisa berkata seperti itu sekarang, tapi tunggu nanti ketika tahun-tahun berlalu, dan si gendut ini!” Kembali menunjuk Sahala yang memang terlihat jelas mengantongi sebungkus rokok di saku kemejanya, “sudah berteman dengan dengan penyakit-penyakit yang ia ciptakan sendiri, lambat laun ia akan mati karena ulahnya sendiri. Sementara kau beserta cintamu itu akan menikmati rasanya tenggelam dalam penderitaan itu sendirian Nin !”.
Hal yang sedang terjadi saat ini sudah di luar dari bayangan Andreas, ia tidak pernah menyangka bahwa Mutiara mampu berucap seperti itu. Ia lalu melihat ke arah Sahala dan pasangannya, ia melihat bahwa Sahala begitu terpukul dengan apa yang Mutiara katakan, namun ia tidak mampu berbuat apa-apa, ia ingin tetap berada di dekat Mutiara.
“Dan mungkin kau akan berkata, umur manusia hanya Tuhan yang tahu, tapi apa ini yang disebut saling mencintai? Apakah Adil? Di satu sisi hanya engkau yang paling banyak berkorban, sementara dia?” seru Mutiara mengakhiri penjelasannya.
Kembali kebisuan melanda perdebatan tersebut, Sahala dan tunangannya Nindya hanya bisa termangu, sejenak sepertinya mereka menyelami perkataan dari Mutiara. Mereka seolah tak percaya dengan
apa yang telah ia dengar, wanita yang sudah hilang kepercayaannya terhadap apa yang namanya cinta dapat mengucapkan kata-kata yang begitu dalamnya, walau agak sedikit menyakitkan ketika mendengarnya.
Sahala yang sejak tadi hanya dia akhirnya angkat bicara, “mendengarmu mengatakan hal seperti itu membuatku mengerti, betapa egoisnya diriku ini selama ini,” tiada penyangkalan yang terucap dari mulut pria bertubuh besar itu.
“Tidak bang, abang salah, abang tidak egois menurutku,” sangkal Nindya membela pria pujaan hatinya itu.
“Penyangkalan yang kau lakukan untuk membelaku saat ini, semakin menguatkan apa yang telah Tiara katakan Nin, semua yang Tiara katakana ada benarnya, kau yang telah menunjukan besarnya cintamu pada abang, tapi abang?” Lirih Sahala.
“Tapi bang”.
“Jika abang mencintaimu, abang harus benar-benar mencintai dan menghargaimu. Jika abang tidak bisa menghargai diri abang sendiri, merawat dan mencintai diri sendiri, bagaimana bisa abang menghargai, menjaga dan merawat cintamu de?” Sahala kembali menjelaskan, agar Nindya tenang dan menerima kenyataan yang telah diutarakan oleh sahabatnya tersebut.
Mendengar pria yang sangat dicintainya berkata seperti itu, mata Nindya terlihat begitu berkaca-kaca. Ia pun kini bisa mengerti dan memahami maksud dari perkataan Mutiara.
Sementara itu, nampaknya Mutiara sudah tidak terlalu tertarik lagi dengan apa yang ia debatkan, ia mengalihkan pandangannya kesekitar ruangan tersebut seperti tengah mencari sesuatu.
“Wah jarang-jarang bisa lihat sinetron live nih he………he…,” celetuk Andreas mencoba mencairkan suasana yang sedari tadi begitu tegang.
“Ha ha ha ha,” tawa renyah keluar dari kedua mulut pasangan yang tampak sudah kembali larut dala keceriaan.
“Oh iya, ngomong-ngomong, kapan dilangsungkan pernikahannya?” Andreas bertanya dengan antusiasnya.
“Sayangnya pekerjaanku sedang tidak bisa ditunda saat ini, jadi mungkin bisa tahun depan, atau mungkin tahun berikutnya. Tapi untungnya ceweku yang satu ini mau mengerti he he,” Nindya hanya tersenyum mendengar Sahala menjawab pertanyaan itu.
“Sayang sekali ya”.
“Nah kamu sendiri bagaimana sama….?”.
“Ssssssst..!” Andreas menyela pertanyaan sahabatnya tersebut, seiring jari telunjuk kanannya menyilang mulutnya, mengisyaratkan untuk Sahala menghentikan pertanyaannya.
Sahala pun mengerti maksud Andreas dan tak meneruskan pertanyaan tersebut, ia hanya menangguk-anggukkan kepalanya. Dan nampaknya Mutiara pun tidak mendengar percakapan dua orang pria tersebut, ia masih fokus mencari-cari di sekitar mencari alasan utama mengapa ia berada di ruangan besar yang penuh orang ini.
“Terima kasih Tiara, bahkan dalam kemarahanmu, kau masih menunjukan kepedulianmu kepadaku,” ucap Sahala dengan pandangan mata yang redup berpijar, mengatakan rasa penyesalan yang teramat dalam di setiap tatapanya.
“Menurutmu aku marah?” Balas Mutiara.
“Apa kau telah memaafkanku?” Tanya Sahala dengan tersenyum.
“Entahlah, apakah kesalahan atau keadaan yang harus kumaafkan, entahlah,” keluh Mutiara yang terlihat bimbang, baginya Sahala adalah sahabat yang sangat ia rindukan, sahabat yang selalu menjaganya, namun di satu sisi, Sahala adalah sahabat yang tidak ada di sisinya ketika ia sangat membutuhkan.
“Tapi aku mohon, agar kau untuk terus mencoba berusaha memaafkanku Tiara, aku akan terus menunggu hingga kau mau membuka pintu hatimu itu lagi,” pinta Sahala.
“Sahala benar Tiara, sudah saatnya kau membuka dirimu lagi,” Andreas menimpali apa yang dikatakan Sahala kepada Mutiara.
Bagai angin lalu, entah karena Mutiara tak mau berlama-lama berada di situ, atau karena ia enggan menanggapi perkataan kedua pria itu, Mutiara berpaling dan mengalihkan pandangannya ke arah sebuah panggung yang cukup besar, di mana banyak hiasan-hiasan dan ukiran indah.
“Kartika sudah menunggu kita Dre, sebaiknya kita kesana!” Seru Mutiara yang kemudian berlalu begitu saja meninggalkan mereka.
“Baik sebentar,” jawab Andreas yang dengan tergesa menyalami dan memeluk kedua sahabatnya tersebut. Nampak wajah yang penuh penyesalan dirautnya ketika berpamitan, “tolong maafkan Tiara ya Sahala, Nindya”.
“Jangan khawatir Dre, akan ada waktunya kita akan berkumpul bersama lagi,” senyum kecil mengiringi jawaban Sahala yang mencoba menenangkan sahabatnya yang tengah gundah itu.
“Kalian memang sahabat terbaik, bye,” ucap Andreas yang lalu melenggang pergi meninggalkan mereka berdua, melangkah cepat menyusul Mutiara yang masih terlihat di antara keramaian.
Sementara Sahala dan tunangannya menatap tajam kedua sahabat yang meninggalkan mereka, sekilas ia melihat Mutiara menoleh, bukan memandang Andreas yang datang menghampiri, tapi menoleh ke arahnya, tatapan matanya seolah mengatakan, betapa kerinduan ini menyakiti hatinya, lalu mereka menghilang di antara keramaian.
“Tiara yang kulihat tadi, bukan seperti Tiara yang sering abang ceritakan,” keluh Nindya menyayangkan,
“kasihan Andreas, kenapa ia masih bertahan mencintai wanita seperti itu?”.
“Karena Andreas mencintai Tiara melebihi cintanya terhadap apapun, termasuk dirinya. Dan ade jangan menilai Tiara terlalu cepat karena pertemuan pendek ini,” jelas Sahala mengingatkan.
“Selalu saja Tiara abang bela,” ucap Nindya sedikit kesal.
“Bukan begitu, jika ade mengenal Tiara sebagaimana abang mengenal dia, pasti ade juga akan menyayangi Tiara, sebagaimana abang menyayanginya sebagai seorang sahabat,” ucap Sahala mencoba meyakinkan calon istrinya tersebut untuk percaya, “jadi abang mohon sama ade untuk lebih bersabar menghadapinya”.
“Iya bang, abang aja bisa, jadi pasti ade juga bisa,” penuh senyum Nindya berucap di hadapan Sahala, begitu pun Sahala, ia pun tersenyum mendengar wanita yang dicintainya berkata seperti itu.
“Seandainya abang tidak mengenal Tiara, abang tidak akan berani mengatakan cinta abang terhadap ade, Tiara lah yang terus memberikan semangat, dan mendorong abang agar menjadi seorang laki-laki yang berani mengungkapkan perasaannya,” ungkap Sahala menerangkan.
Di dalam hatinya, Sahala masih memendam rasa terima kasihnya yang teramat dalam kepada Mutiara, bukan hanya karena masalah percintaannya, tapi juga perihal masa depan yang bisa ia raih hingga ia sukses hari ini.
“Ketika semuanya sudah menyerah dan pasrah, hanya kau yang terus mencoba mencari cara, kaulah yang akan selalu ada, dan hanya kaulah yang akan memberikan segala yang kau punya, hanya untuk melihat sahabat-sahabatmu tersenyum kembali, bahkan kau tak mengizinkan kami untuk mengucapkan rasa terima kasih kami, kau akan marah jika kami melakukannya, bagimu senyuman seorang sahabat adalah cahaya yang menyinari hatimu.
Namun sebaliknya, ketika kau kehilangan setengah hatimu, bahkan seluruhnya, ketika saat kau kehilangan sinar di hatimu, dan ketika saat kau teramat sangat membutuhkan kehadiran kami, kami tak hadir di sana untuk menemanimu. Dengan egoisnya kami hanya menikmati kebahagiaan kami, tanpa membaginya denganmu ketika kau sangat membutuhkannya.
Terlebih lagi aku, dengan pengecutnya aku berhenti berusaha, sementara yang lainnya tetap mencoba.
Bahkan seorang Kartika yang mudah putus asa pun dengan gigihnya berusaha, hingga akhirnya kau mau menerimanya, sementara aku hanya bisa berlari menghindar seperti seorang pengecut.
Kini duniamu yang penuh warna dan penuh keceriaan hancur berkeping-keping tiada tersisa,” Sahala menggerutu dalam hatinya yang penuh penyesalan.
Sahala masih tidak mampu memaafkan diri sendiri, kini ia merasakan apa yang Mutiara rasakan saat lalu. Merasakan betapa perihnya melihat sahabat yang ia sayangi begitu menderita, inilah alasan utama Mutiara bersikeras mengembalikan senyuman semua sahabatnya ketika mereka berduka.
Tanpa terasa peluh pun menetes dari mata Sahala, mulutnya pun bergetar mengucapkan.
Maafkanlah Aku Sahabatku
Jangan sampai ketinggalan bab duanya ya kawan-kawan semoga semakin menarik
Untuk lanjutan ceritanya Klik Disini
Salam
Mugianto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar