KCM Bab I: Maafkanlah Aku Sahabatku Part 1


KCM Bab I: Maafkanlah Aku Sahabatku Part 1
Maafkanlah Aku Sahabatku Part 1
 KCM Bab I: Maafkanlah Aku Sahabatku Part 1

Di siang yang terik, panas sinar mentari pun sanggup membakar hati yang tengah bimbang, di jalan raya yang sedang riuh ramai lalu lalang kendaraan jalanan Ibukota, terdengar sayup percakapan dua insan muda-mudi yang sedang memperdebatkan sesuatu di dalam sebuah mobil sedan hitam mewah keluaran terbaru, yang mungkin hanya segelintir orang saja yang sanggup memilikinya.

“Sebenarnya apa sih kesalahanku?” Tanya pemuda di dalam mobil tersebut kepada seorang wanita yang ada di sebelahnya tersebut.


Andreas nama pemuda tersebut, seorang eksekutif muda yang terbilang cukup sukses untuk orang seumurannya, perawakannya pun bisa dibilang mendekati sempurna. Wajah tampan blasteran menghiasai penampilannya, tubuh tinggi atletis 177 cm. Belum lagi gaya berpakaiannya yang sangat elegan, jas mewah berwarna hitam dipadu padankan dengan dasi berwarna merah dengan kemeja putih di dalam membalut tubuhnya. 

Semua itu di sempurnakan dengan celana panjang berwarna hitam dan sepatu kulit berwarna coklat mengkilat. Wanita mana yang tidak tertarik dengan penampilan yang Andreas sajikan tersebut? Dan tak hanya itu saja, pendidikannya pun tidak bisa di bilang biasa saja, gelas S2-nya diraih dengan nilai sempurna, dan menjadikannya salah satu mahasiswa terbaik di fakultasnya.

“Sudahlah aku tidak ingin membahasnya lagi, kita bicarakannya nanti saja!” Seru wanita yang ada di mobil tersebut menjawab pertanyaan Andreas.


Terlihat jelas kekesalan menutupi wajah cantiknya. Bak awan mendung yang datang mengusir cerahnya hari, tiada kesejukan dipancarkan dalam tiap tatapan matanya, selaksa embun pagi yang terbang menguap, menghilang begitu saja meninggalkan dedaunan yang tengah menghijau.

Mutiara 25 tahun yang juga seorang eksekutif muda yang handal seperti Andreas, paras cantik nan ayu yang tak mampu dituliskan dalam guratan pena. Bibir tipis merah meronanya diibaratkan barisan semut merah yang berjejer rapi menguntai keindahan. Rambut hitam pekat yang menjuntai hingga pundaknya, layaknya sebuat kain sutra berwarna hitam yang begitu halus dan lembut. Apa yang ditampilkan oleh Mutiara hanyalah keanggunan dan keelokan yang tercitrakan dalam sosok dan penampilannya.

Berbanding terbalik dengan paras wajahnya yang cantik, kehidupannya yang tertutup membuat dirinya terlihat misterius, tiada yang menyangka, ia mempunyai sifat yang begitu egois, memudarkan apa yang terlintas saat pertama kali kita memandangnya. Seakan-akan ada lubang kecil di dalam hatinya yang tertutup kegelapan, membuat ia mengingkari apa yang diyakininya saat ini.

“Tapi……Jika kau tak mengatakan apa kesalahanku, bagaimana aku bisa memperbaikinya?” Sambut Andreas mendengar perkataan wanita tersebut.

Namun tiada kata terucap dari bibir tipis wanita yang terngah mengendarai mobil sedan mewah tersebut, ia malah semakin focus pada panjangnya jalanan Ibukota yang berdebu, begitu eratnya jemari lentik itu menyetir mobil tersebut.

Dan akhirnya, laju roda pun terhenti di sebuah lobi sebuah gedung mewah, Mutiara yang berada di kursi pengemudi telah membuka pintu mobil itu, pandangannya pun kini terarah ke Andreas yang tengah siap untuk beranjak keluar.

“Kau tak lupa membawanya kan?” Tanya Mutiara yang juga memecah kebisuan yang selama ini berlangsung dalam perjalanan yang cukup panjang tersebut.

“Kalau soal itu jangan khawatir, kau kan tahu aku orangnya teliti, tidak pernah lupa,” saut Andreas dengan melontarkan senyumannya.

“Tapi nyatanya kau lupa”.

“Maksudmu? Ayolah Tiara katakan saja”.

“Tak perlu dibahas lagi, Ayo!”.

“Iya maaf”.

Dari dalam mobilnya, Mutiara melihat seorang pemuda mendekat ke arah mobilnya, yang lalu  menyambut pintu mobil yang hendak ia buka. Dengan penuh senyum pemuda itu pun menyapa, “selamat datang bu”.

Tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan pemuda itu, Mutiara pun kemudian beranjak dari tempat duduknya, sementara pemuda itu terlihat begitu terpesona dengan apa yang tengah ia lihat saat ini. Bagaimana mungkin seorang bidadari bisa berdiri di hadapannya, dan rela meluangkan sedikit waktunya untuk turun ke bumi yang mulai panas dan gersang ini.

Begitu indah apa yang tengah pemuda itu saksikan di depannya, bentuk tubuhnya yang begitu ramping dan tinggi dibalut kain sutra yang berwarna putih krim yang menutupi hingga sebatas lututnya. Kulit putihnya seperti susu segar yang murni terlihat begitu memukau, belum lagi lekuk tubuh yang begitu elok pun terlihat menyembul dari balik gaun mewah yang dikenakanan.

Tak mampu pemuda itu menghentikan apa yang kini ia sedang lamunkan, pikirannya terbang melayang ke awang-awang, entah apa yang kini ia tengah lamunkan saat ini, namun pastinya, pikirannya kini tidak tengah berada di atas bumi.

“Hey…..! Hey mas……!”.

“Yaaaa………..ya bu, ada apa?” Jawab pemuda tersebut dengan terbata-bata, lamunannya yang sedari tadi membawa pikirannya ke awang-awang seketika sirna begitu saja.

“Situ sedang kerja atau sedang apa?” hardik Mutiara dengan nada yang sedikit tinggi terhadap pemuda yang kini tengah ada di hadapannya tersebut, “jangan terlalu banyak mimpi saat kerja!”.

“Maafkan saya bu”.

“Nih diparkir yang bener, jangan sampai lecet,” ucap Mutiara seraya melemparkan kunci mobil itu ke pemuda itu, rupanya pemuda tersebut adalah seorang petugas Valley Parking yang disediakan pengelola gedung mewah tersebut.

“Baik bu jangan khawatir,” saut petugas tersebut.

Dengan perasaan yang agak sedikit tersinggung atas apa yang Mutiara katakan, ia menyambut kunci mobil yang terbang ke arahnya tersebut seraya melemparakan senyum tipis, yang bisa dibilang terpaksa ia lakukan karena tuntutan pekerjaan yang kini tengah ia laksanakan. Dan tanpa memberi kesan apa-apa, Mutiara berlalu begitu saja meninggalkan petugas Valley Parking tersebut dan juga Andreas yang masih terlihat begitu sibuk dengan barang yang tengah ia bawa.

Kini giliran Andreas yang mendekati petugas tersebut, dengan memberi senyumnya yang menawan, Andreas berucap, “tolong jangan dimasukan kedalam hati ya mas,” seraya tangan kanannya mencoba menyodorkan uang kertas senilai Rp. 100.000, sementara tangan kirinya menepuk pundak sebelah kanan petugas Valley Parking itu.

“Tidak perlu pak, ini sudah merupakan kewajiban saya,” ucap petugas tersebut dengan gugup.

“Sudah tidak apa-apa, terima saja mas”.

“Sungguh pak, tidak usah”.

“Ayolah, anggap saja ini permintaan maaf saya, atas apa yang pacar saya katakan kepada mas tadi”.

“Sungguh pak, ini tidak perlu,” masih tetap menolak petugas Valley Parking tersebut.

“Jika mas menolak pemberian saya ini, sama saja mas menolak permintaan maaf saya, dosa loh mas,” ucap Andreas dengan mimik wajah yang sedikit memelas.

“Tapi…..”

“Tidak apa-apa mas, jangan sungkan”.

“Baiklah, terima kasih pak,” dengan sedikit terpaksa, pemuda itu akhirnya menerima pemberian itu.

“Nah gitu dong, baiklah mas saya tinggal dulu, tolong dijaga ya mobilnya,” ucap Andreas yang kemudian berlalu meninggalkan petugas Valles Parking tersebut.

Bergegaslah Andreas meninggalkan ruang lobi gedung mewah tersebut mengejar Mutiara yang sudah terlebih dahulu memasuki pintu masuk gedung itu. Sementara petugas Valley Parking tersebut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, memikirkan apa yang baru saja terjadi di hadapannya.

Dalam benak petugas tersebut, pesona yang wanita itu tampilan menggambarkan keindahan, keanggunan dan kecantikan yang bersatu padu menciptakan maha karya Tuhan yang begitu sempurna, namun semua itu ternodai merdunya kalimat yang terucap begitu indah tapi begitu menyakitkan maknanya. Berbeda dengan wanita itu, pria yang memberikannya tips itu sangatlah baik, ramah, dan penuh senyum. Bukan semata-mata karena rupiah yang ia berikan, namun karena pria itu tidak segan-segan untuk memohon maaf atas apa yang tidak ia lakukan.

Penasarkan dengan sifat asli dari Mutiara kita? jadi nantikan kelanjutan kisah ini berikutnya, dan jangan lupa untuk memberikan masukan berupa kritikan bahkan cibiran. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Untuk lanjutan ceritanya Klik Disini

Salam
Mugianto
Unknown Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar