![]() |
| Menanti Sesuatu Yang Tak Pasti |
KCM Prolog: Menanti Sesuatu Yang Tak Pasti
Sejuk angin pagi berhembus meliuk-liuk menari di antara dedaunan hijau, dimana diatasnya setetes embun bersinar berwarna-warni memantulkan sinar mentari pagi. Tak hentinya burung-burung berkicau, bernyanyi menyambut sang hari, bertautan menguntai nada yang begitu syahdu untuk didengar, laksana menari diantara rindangnya ranting pohon-pohon yang memayungi bumi.
Dibalik semua itu, kokoh berdiri bangunan besar, seperti sebuah istana, di mana banyak orang yang menghabiskan waktunya di tempat itu. Terkadang terdengar tangisan kesedihan yang terasa sangat memilukan hati, namun tak jarang pula terdengar tangisan kebahagiaan di tempat yang paling dihindari manusia ini.
Ya di sinilah aku banyak menghabiskan waktu ku selama ini, di satu ruangan khusus sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, di mana aku hanya bisa duduk dan menatap paras cantik dan ayu yang sedang tertidur pulas. Keanggunan tersirat di cantik wajahnya, kebahagiaan tergambar di senyum dalam tidurnya, nampaknya ia bermimpi indah malam ini.
Beranjak diriku dari tempat duduk yang selama ini selalu menemaniku, kusibakan tirai yang menutupi jendela ruangan ini. Seketika, kehangatan mentari menyusup ke dalam ruangan ini, bak selimut yang menghangatkanmu di saat kau merasa kedinginan di malam hari, melindungimu di saat rasa takut menghampiri. Dan ku meyakini, kenyamanan yang selalu alam berikan di pagi hari ini, turut juga kau rasakan di nyenyaknya tidurmu itu.
“Selamat pagi tuan putri, sudah waktunya untuk bangun,” sapa ku seiring kembali menatap wajah wanita yang begitu mempesona yang tengah berada di atas ranjang tersebut.
Namun kembali, hanya keheningan yang menyambut sapaan ku tersebut, nampaknya ia masih terbuai dalam mimpi indahnya, terlena dengan kebahagiaan yang ditawarkan mimpi itu.
Kembali ku terduduk di kursi yang telah menjadi sahabatku selama aku di sini, menemani di saat ku menatap senyum di bibir manisnya, tangis di bening indah bola matanya, bahkan mimik marah di raut wajahnya. Mampu diriku melewati ini semua, hanya untuk melihat semua itu.
Ketakberdayaanku teramat sering melukai hatinya, ketakutanku pun tak jarang membuatku tenggelam dalam penyeselan yang sangat dalam. Bagaimana bisa ku mencintai jika ku merasa takut untuk terjatuh? Bagaimana bisa ku mencintainya jika ku takut untuk terluka?
Dibalik semua itu, kokoh berdiri bangunan besar, seperti sebuah istana, di mana banyak orang yang menghabiskan waktunya di tempat itu. Terkadang terdengar tangisan kesedihan yang terasa sangat memilukan hati, namun tak jarang pula terdengar tangisan kebahagiaan di tempat yang paling dihindari manusia ini.
Ya di sinilah aku banyak menghabiskan waktu ku selama ini, di satu ruangan khusus sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, di mana aku hanya bisa duduk dan menatap paras cantik dan ayu yang sedang tertidur pulas. Keanggunan tersirat di cantik wajahnya, kebahagiaan tergambar di senyum dalam tidurnya, nampaknya ia bermimpi indah malam ini.
Beranjak diriku dari tempat duduk yang selama ini selalu menemaniku, kusibakan tirai yang menutupi jendela ruangan ini. Seketika, kehangatan mentari menyusup ke dalam ruangan ini, bak selimut yang menghangatkanmu di saat kau merasa kedinginan di malam hari, melindungimu di saat rasa takut menghampiri. Dan ku meyakini, kenyamanan yang selalu alam berikan di pagi hari ini, turut juga kau rasakan di nyenyaknya tidurmu itu.
“Selamat pagi tuan putri, sudah waktunya untuk bangun,” sapa ku seiring kembali menatap wajah wanita yang begitu mempesona yang tengah berada di atas ranjang tersebut.
Namun kembali, hanya keheningan yang menyambut sapaan ku tersebut, nampaknya ia masih terbuai dalam mimpi indahnya, terlena dengan kebahagiaan yang ditawarkan mimpi itu.
Kembali ku terduduk di kursi yang telah menjadi sahabatku selama aku di sini, menemani di saat ku menatap senyum di bibir manisnya, tangis di bening indah bola matanya, bahkan mimik marah di raut wajahnya. Mampu diriku melewati ini semua, hanya untuk melihat semua itu.
Ketakberdayaanku teramat sering melukai hatinya, ketakutanku pun tak jarang membuatku tenggelam dalam penyeselan yang sangat dalam. Bagaimana bisa ku mencintai jika ku merasa takut untuk terjatuh? Bagaimana bisa ku mencintainya jika ku takut untuk terluka?
Kau mengajarkanku bagaimana caranya untuk berani melangkah.
Kau mengajarkanku bagaimana caranya untuk berharap.
Kau juga mengajarkanku bagaimana caranya untuk menerima perbedaan.
Terlebih lagi, kau mengajarkanku Cara untuk bernafas.
Bernafas di dalam dunia mu yang begitu indah.
Namun, semua yang telah kau ajarkan padaku, tak mampu menghilangkan apa yang paling kutakutkan selama ini dalam hidupku. Kini hanya bisa ku mengecewakanmu dan segala kepercayaanmu, hingga hanya ada penyesalan di dalam hati ini.
Berulang kali ku berusaha, terus dan terus ku mencoba, menghapus kenangan pahit yang selama ini menghantuiku. Namun semuanya hanya sia-sia belaka, aku terlalu pengecut untuk bisa menyingkirkan hal itu.
Kenyataan yang kini sedang terjadi, sering membuatku bertanya, masih pantaskah diriku untuk kau maafkan? Masih pantaskah diriku untuk mendapat sucinya cintamu? Hanya kaulah yang bisa menjawab semua itu.
Perlahan kugenggam jemari lentiknya, pandanganku tak pernah lepas memandang cantik wajahnya, lalu dengan lembut ku kecup keningnya dan berkata, “semua akan baik-baik saja”.
Untuk lanjutan ceritanya Klik Disini
Berulang kali ku berusaha, terus dan terus ku mencoba, menghapus kenangan pahit yang selama ini menghantuiku. Namun semuanya hanya sia-sia belaka, aku terlalu pengecut untuk bisa menyingkirkan hal itu.
Kenyataan yang kini sedang terjadi, sering membuatku bertanya, masih pantaskah diriku untuk kau maafkan? Masih pantaskah diriku untuk mendapat sucinya cintamu? Hanya kaulah yang bisa menjawab semua itu.
Perlahan kugenggam jemari lentiknya, pandanganku tak pernah lepas memandang cantik wajahnya, lalu dengan lembut ku kecup keningnya dan berkata, “semua akan baik-baik saja”.
Untuk lanjutan ceritanya Klik Disini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar